Rabu, 01 Mei 2013

MAKALAH TENTANG EFISIENSI ALOKASI DAN EFISIENSI EKONOMI KOMODITI JAGUNG




EFISIENSI ALOKASI DAN EFISIENSI EKONOMI KOMODITI JAGUNG

Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Matematika Ekonomi

Disusun oleh :

Kelompok 3






Alda Riski Madewa                            125040118113013
Aulia Rasdiana Putri                           125040118113009
Eko Fendy Listiyono                          125040118113012
Excel Virgi Swastika                          125040118113021
Merediansyah Amalul Khoiri             125040118113015

 



 


















UNIVERSITAS BRAWIJAYA KAMPUS IV
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
KEDIRI
2012
 

DAFTAR ISI

I.                   PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang……………………………………………………..3

1.2  Rumusan Masalah…………………………………………………4

1.3  Tujuan………………………………………………………………4

II.                PEMABAHASAN

    III.   KESIMPULAN

    DAFTAR PUSTAKA
 
I. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Fungsi dengan dua variabel atau lebih variabel bebas ini sering kita jumpai dalam penerapan bidang ekonomi dan bisnis. Dalam bab differensiasi untuk fungsi-fungsi yang mengandung lebih dari satu macam variabel bebas. Dasar dalam prinsip differensiasi tidak berbeda dengan prinsip differensiasi untuk fungsi variabel bebas tunggal. Hanya dalam konsep differensiasi parsial dan konsep diferensiasi total.
Kenyataannya, hal tersebut bila ditelusuri lebih mendalam biasanya suatu variabel terikat (dependent variable) akan dipengaruhi oleh beberapa variabel bebas (independent variables). Namun, perlu diingat bahwa di antara variabel-variabel bebas ini ada yang saling mempengaruhi (interdependency), dan ada pula yang tidak saling mempengaruhi (independent) satu sama lainnya. Hal inilah yang perlu diperhatikan bilamana akan membuat suatu model ekonomi atau bisnis, agar dalam analisisnya nanti akan diperoleh hasil yang sesuai dan akurat.
Fungsi yang terdiri lebih dari satu variabel bebas diformulasikan Y= f(X1, X2, X3,…, Xn). Penurunan fungsi yang memiliki variabel bebas lebih dari satu dilakukan terhadap masing-masing variabel bebas yang bersangkutan secara terpisah/ secara parsial.
Deferensial total merupakan penjumlahan dari diferensiasi parsial atas variabel yang terdapat pada fungsi yang bersangkutan. Jika suatu fungsi Y= (x1, x2) maka diferensiasi totalnya adalah dy=∂y/∂x. dx1 + ∂y/∂x.dx2, ∂y/∂x1 dan ∂y/∂x2 sebenarnya merupakan diferensiasi parsial dari y dengan penekanan terhadap x1 dan x2. Sedangkan jumlah dari diferensiasi parsial merupakan diferensiasi total.
Dengan adanya defferensial majemuk, hal ini mempermudah suatu perusahaan untuk menentukan efisiensi teknis, efisiensi alokatif, dan efisiensi ekonomi.


1.2  Rumusan Masalah

1.    Bagaimana efisiensi alokasi dan efisiensi ekonomi mempengaruhi usaha jagung di Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan.

1.3  Tujuan

2.    Menganalisis tingkat efisiensi harga usaha jagung di Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan.
3.    Menganalisis tingkat efisiensi ekonomis usaha jagung di Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan.

II. PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Efisiensi Alokatif dan Efisiensi Ekonomi

2.1.1   Efisiensi Alokatif

Efisiensi alokatif (AE) adalah kemampuan seorang petani untuk menggunakan input pada proporsi yang optimal pada harga faktor dan teknologi produksi yang tetap (given). Dapat juga didefinisikan sebagai kemampuan petani untuk memilih tingkat penggunaan input minimum di mana harga-harga faktor dan teknologi tetap. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa AE menjelaskan kemampuan petani dalam menghasilkan sejumlah output pada kondisi minimisasi rasio biaya input.

2.1.2   Efisiensi Ekonomi

Gabungan kedua efisiensi yakni efisiensi teknis dan efisiensi alokatif disebut efisiensi ekonomi (EE), artinya bahwa produk yang dihasilkan baik secara teknik maupun alokatif efisien. Secara ringkas dapat dikatakan EE sebagai kemampuan yang dimiliki oleh petani dalam berproduksi untuk menghasilkan sejumlah output yang telah ditentukan sebelumnya.

2.2  Efisiensi Alokasi Komoditi Jagung

Untuk mencari efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi (input) ini harus diketahui terlebih dahulu harga masing-masing faktor produksi, harga hasil produksi, produk fisik marginal (MPPXi) serta nilai produk marginal (VMPXi). Hasil analisis mengenai penggunaan faktor produksi yang dipakai oleh petani dalam mengusahakan jagung dapat dilihat pada Tabel 5.7 sebagai berikut.



Gambaran LuasTanaman Jagung dan Populasi Kelompok Tani
di Kecamatan Wirosari Tahun 2004

2.3  Efisiensi Ekonomi Komoditi Jagung

Secara keseluruhan model produksi jagung yang diestimasikan memberikan hasil yang signifikan, karena variable-variabel independen yang diamati (X1, X2, X3, X4, X5, X6, X7) adalah signifikan dengan taraf nyata α = 5%. Variabel-variabel yang diamati mempunyai perilaku empiris yang sesuai dengan ekspektasi perilaku teoritisnya bila dilihat dari kesesuaian lavelnya.
Dari uji t diperoleh hasil bahwa variabel-variabel luas lahan, tenaga kerja, bibit, Urea, TSP, KCl, dan pestisida (X1, X2, X3, X4, X5, X6, X7) mempunyai signifikansi di bawah probabilitas signifikansi 0,05 (α = 5%), dengan demikian variabel-variabel tersebut mempengaruhi produksi jagung secara signifikan.

1.    Variabel luas lahan (X1) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,024, yang berarti bahwa variabel luas lahan mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada pada faktor luas lahan dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,008. Hal ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% lahan untuk dipakai dalam menanam jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,008% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA.
2.    Variabel tenaga kerja (X2) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05 (α =5%) yaitu 0,031, yang berarti bahwa variabel tenaga kerja signifikan mempengaruhi produksi jagung. Elastisitas input produksi pada faktor produksi tenaga kerja dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,327. Hal ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan tenaga kerja 1 % untuk dipakai dalam usaha menanam jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,327% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain tetap. Dengan demikian Ho diterima dan menolak HA.
3.    Variabel bibit (X3) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,000, yang berarti bahwa variabel bibit mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada pada faktor bibit dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,181. Hal ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% bibit untuk dipakai dalam usaha pertanian jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,181% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA.
4.    Variabel jumlah pupuk Urea (X4) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,004, yang berarti bahwa variabel jumlah pupuk Urea mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada pada faktor jumlah pupuk dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,159. Hal ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% pupuk Urea untuk dipakai dalam penanaman jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,159% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA.
5.    Variabel jumlah pupuk TSP (X5) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,002, yang berarti bahwa variabel jumlah pupuk TSP mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada pada faktor jumlah pupuk TSP dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,219. Hal ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% pupuk TSP untuk dipakai dalam penanaman jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,219% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA.
6.    Variabel jumlah pupuk KCl (X6) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,007, yang berarti bahwa variabel jumlah pupuk KCl mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada pada faktor jumlah pupuk KCl dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,210. Hal ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% pupuk KCl untuk dipakai dalam penanaman jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,210% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA. 9.
7.    Variabel jumlah pestisida (X7) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,022, yang berarti bahwa variabel jumlah pestisida mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada pada faktor jumlah pestisida dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,127. Hal ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% pestisida untuk dipakai dalam penanaman jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,127% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA.
IV. KESIMPULAN

Secara keseluruhan penggunaan imput pada usaha pertanian jagung belum mencapai tingkat efisiensi ekonomi sehingga penggunaan input variabel bibit, Urea, TSP, KCl dan pestisida masih bisa ditambah. Adapun penggunaan lahan masih perlu lebih dioptimalkan. Namun untuk input tenaga kerja nilai efisiensinya tidak efisien karena itu penggunaan input tenaga kerja justru harus dikurangi. 11. Luas usaha pertanian rata-rata seluas 0,64 ha di daerah penelitian dirasakan belum dimanfaatkan secara optimal oleh petani dan berdasarkan pedoman pertanian diketahui bahwa usaha pertanian secara berkelompok pada luasan areal yang relatif sama atau seperti model intensifikasi khusus adalah lebih baik untuk mencapai usaha pertanian yang efisien. Pengunaan bibit, pupuk Urea, TSP, KCL dan Pestisida cukup berarti terhadap produksi, namun dirasakan bahwa volume yang dipakai perlu ditambahkan, tetapi penggunaan tenaga kerja dirasa sangat berlebihan sehingga sudah tidak efisien lagi.

















DAFTAR PUSTAKA

R i y a d I,2007. TESIS ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI JAGUNG DI KECAMATAN WIROSARI
KABUPATEN GROBOGAN.Universitas Diponegoro .Semarang

MAKALAH SOSIOLOGI PERTANIAN TENTANG PERUSAHAAN PEMBUDIDAYAAN TANAMAN TOMAT



PERUSAHAAN PEMBUDIDAYAAN TOMAT

Disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah sosiologi pertanian

Disusun oleh:

Aulia Rasdiana Putri                           125040118113009
Eko Fendy Listiyono                          125040118113012
Irwanto                                               125040118113004
Muhammad Hendy Prasetiyo             125040118113007
Pangestika Fajar Nurviana                  125040118113006




























UNIVERSITAS BRAWIJAYA KAMPUS IV
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
KEDIRI
2012




 I  PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan hortikultura di Indonesia hingga saat ini, belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini antara lain disebabkan karena hortikultura perlu penanganan yang serius, modal besar, dan berisiko tinggi. Selain itu, harga produk hortikultura rendah dan berfluktuasi sehingga memperbesar risiko rugi bagi petani.
Dengan hasil yang sedikit dan resiko yang begitu besar bagi petani menyebabkan kecil nya minat petani didalam membudidayakan tanaman hortikultura khususnya tanaman sayur-sayuran. Namun pada dasarnya tanaman hortikultura merupakan tanaman yang sangat gampang untuk dibudidayakan karena tidak memerlukan lahan yang luas untuk melakukan kegiatan budidaya.
Salah satu komditi yang dikembangkan dalam tanaman hortikultura yaitu tanaman tomat. Tomat sangat bermanfaat bagi tubuh karena mengandung vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan. Buah tomat juga mengandung karbohidrat, protein, lemak dan kalori. Buah tomat juga adalah komoditas yang multiguna berfungsi sebagai sayuran, bumbu masak, buah meja, penambah nafsu makan, minuman, bahan pewarna makanan, sampai kepada bahan kosmetik dan obat-obatan.
Tomat adalah komoditas hortikultura yang penting tetapi produksinya baik kuantitas dan kualitasnya masih rendah. Terkadang biaya yang diterima petani dari hasil penjualan tomat tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan dari mulai tanam sampai panen. Biaya-biaya tersebut biasanya berupa biaya untuk membeli bibit, membeli pupuk, dan biaya untuk merawat tanaman tomat itu sendiri, misalnya untuk membeli herbisida yang digunakan untuk menanggulangi adanya hama dan penyakit yang menyerang tanaman tomat. Bibit yang ditanam pun harusnya berkualitas.
Hal ini disebabkan antara lain tanah yang keras, miskin unsur hara mikro serta hormon, pemupukan tidak berimbang, serangan hama dan penyakit, pengaruh cuaca dan iklim, serta teknis budidaya dari petani. Untuk itu diperlukan suatu teknis budidaya dan perawatan yang tepat untuk tanaman tomat ini agar dapat berproduksi dengan maksimal.




1.2 Rumsan Masalah
1.      Bagaimanakah cara melakukan pembibitan tanaman tomat yang baik dan benar?
2.      Bagaimana cara pemeliharaan tanaman tomat yang baik dan benar?
3.      Berapa biaya total yang harus di keluarkan dalam pembibitan tanaman tomat?
4.      Bagaimana cara pemasaran tanaman tomat yang baik dan benar di lapangan?

1.3 Tujuan
1.      Mendiskripsikan pembibitan tanaman tomat.
2.      Mendiskripsikan pemeliharaan tanaman tomat.
3.      Menganalisis biaya yang di keluarkan.
4.      Mendiskripsikan pemasaran tanaman tomat.
























II  TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Stratifikasi Sosial Dalam Pertanian
            Berdasarkan kepemilikan tanah, terbagi atas tiga lapisan:Kaum petani yang memiliki tanah pertanian dan rumah, Kaum petani yang tidak memiliki tanah pertanian, namun memiliki tanah pekarangan dan rumah dan Kaum petani yang tidak memiliki tanah pertanian dan pekarangan untuk rumah. Berdasarkan kriteria ekonomi, terbagi atas tiga lapisan: Kaum elit desa yang memiliki cadangan pangan dan pengembangan usaha, orang yang memiliki cadangan pangan saja dan orang yang tidak memiliki cadangan pangan dan cadangan usaha, dan mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan konsumsi perutnya agar tetap hidup (Arie Yudha, 2010).

2.2  Kelembagaan Pertanian

            Kelembagaan merupakan suatu himpunan individu yang sepakat untuk menetapkandan mencapai tujuan bersama, kelembagaan didominasi oleh unsur-unsur aturan,tingkah laku atau kode etik, norma, hukum dan faktor pengikat lainnya antar anggotayang membuat orang saling mendukung.
            Unsur-unsur Kelembagaan: Institusi merupakan landasan untuk membangun tingkah laku sosial masyarakat, Norma tingkah laku yang mengakar dalam masyarakat dan diterima secara luasuntuk melayani tujuan bersama yang mengandung nilai tertentu dan menghasilkaninteraksi antar manusia yang terstruktur, Peraturan dan penegakan aturan/hukum, Aturan dalam masyarakat yang memfasilitasi koordinasi dan bekerjasama dengandukungan tingkah laku, hak dan kewajiban anggota,  Kode etik , Kontrak , Pasar, Hak millik, Organisasi, Insentif untuk menghasilkan tingkah laku yang diinginkan, Macam- M acam kelembagaan: 
1.Kelembagaan petani, berupa kelompok tani, gaungan kelompok tani dan koperasi.
2.K elembagaan pemerintah, berbentuk kelembagaan penyuluhan baik di tingkatnasional, kabupaten/kota, kecamatan dan desa/kelurahan.
3.Kelembagaan swasta, bergerak di bidang pengadaan sarana produksi, keuangandan pengangkutan.
4.Kelembagaan LSM (lembaga Swadaya Masyarakat), bergerak di bidang pengujiandan penyuluhan.



2..2.1  Kemitraan Antar Lembaga
            Adanya beberapa kelembagaan yang berkembang, perlu dikembangkan kemitraanantar instansi pemerintah dan masyarakat, yaitu dengan melakukan perjanjian/kontrak kerjasama antara lembaga publik dan sektor swasta yang memungkinkan partisipasimasyarakat.Dengan adanya kemitraan ini, akan terjadi kerjasama dan pembagian peran dantanggung jawab bersama, baik dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunanmaupun pembagian resiko serta akuntabilitas penyelenggaraan pembangunan.

2.2.2  Peranan Kelembagaan
            Berbagai permasalahan dalam bidang agribisnis selalu muncul mulai yang berkaitan dengan proses produksi, pascapanen (pengeringan, sortasi, dan lain-lain), penyimpanan, pengangkutan dan pemasaran. Sejauh ini proses produksi dan penanganan hasil panen komoditas lebih banyak menekankan pada kemampuan dan keterampilan petani secara individu. Proses yang melibatkan kelembagaan, baik dalam bentuk lembaga organisasi maupun kelembagaan norma dan tata pengaturan, pada umumnya masih terpusat pada proses pengumpulan dan pemasaran dalam skala tertentu. Kelembagaan pertanian dan petani belum terlihat perannya dalam mengatasi permasalahan tersebut. Padahal fungsi kelembagaan agribisnis sangat beragam, antara lain adalah sebagai penggerak, penghimpun, penyalur sarana produksi, pembangkit minat dan sikap, dan lain-lain.
Sistem produksi pertanian di Indonesia umumnya dicirikan oleh kondisi sebagai berikut: (1) skala usaha kecil dan penggunaan modal kecil; (2) penerapan teknologi usahatani belum optimal; (3) belum adanya sistem pewilayahan komoditas yang memenuhi azas-azas pengembangan usaha agribisnis; (4) penataan produksi belum berdasarkan keseimbangan antara supply dan demand; dan (5) sistem panen dan penanganan pascapanen yang belum prima; serta (6) sistem pemasaran hasil belum efisien dan harga lebih banyak ditentukan oleh pedagang (Balitbang Deptan, 2011).





 III PEMBAHASAN

3.1 Profil Perusahaan Yang Di Survey
Perusahan yang bertempat strategis sehingga dapat di jangkau oleh mitra-mitra kerja yang membutuhkan benih. Serta mampu menditribusikan dengan mudah dengan fasilitas alat yang memadahi. Pelayanan yang diberikan juga mampu menarik pelanggan, dan mampu memperoleh keuntungan dengan cepat serta mampu balik modal dengan cepat.

3.2  Tata Kelola Tenaga Kerja
1)      Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang baik dan berkualitas.
2)      Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing tenaga kerja.
3)      Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan.
4)      Mengoptimalkan nilai jual yang tinggi.


3.3 Tata Kelola Produksi

3.3.1        Bahan Baku
Dengan bahan baku tanah secukupnya, air juga secukupnya dengan takaran tertentu. Untuk mengelola tanah diperlukan alat-alat berikut : Cangkul untuk memcah tanah yang padat, sekop untuk mengaduk tanah dan menyiapkan tanah bagi tanaman, gerobak dorong untuk memindahkan tangan hasil campuran produksi, cetok untuk memindahkan dan menyiapkan tanah untuk tanaman.
Dengan mengoptimalkan pemanfaatan peralatan,meminimalkan penggunaan tenaga kerja, memperlancar aliran bahan dan produk jadi, menyedikitkan persediaan,  mengefisienkan pemakaian ruangan,  memberikan kecukupan ruang gerak operasional maupun pemeliharaan,  meminimalkan investasi modal, memberikan feksibilitas untuk perubahan, meningkatkan keselamatan kerja,  dan menciptakan suasana kerja yang kondusif. Tata letak produksi dikelola dengan tujuan mengembangkan sistem produksi yang efektif dan efisien.Tata letak produksi dapat diklasifikasikan ke  dalam tata letak proses, tata letak produk, tata letak posisi tetap.Setiap jenis tata letak tersebut, dalam keberadaannya mempunyai keuntungan dan kelemahan untuk dipergunakan.
3.4 Tata Kelola Pemasaran
           
Pemasaran pendek atau komoditi meliputi karakterikstik dari produksi, situasi penawaran dan permintaan. Pendekatan ini sering digunakan untuk mempelajari permintaan pasar, tren harga. Memindahkan barang dari produsen ke konsumen dan butuh pedagang perantara. Pedagang perantara bisa bertindak sebagai, propietor / pemilik, partnership / mitra. Pendekatan fungsional merupakan metode untuk mempelajari sistem pemasaran dengan mengklafikasikan proses pemasaran berdasarakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan fungsinya.

























BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
                Dapat disimpulkan bahwa tanaman tomat adalah komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksinya baik kuantitas dan kualitas masih rendah.Agar tanaman tomat dapat tumbuh dengan baik, hendaknya jenis dan varietasnya ditentukan terlebih dahulu sesuai dengan kondisi dan keadaan alam ditempat yang akan dijadikan lahan.Selain di ladang atau di kebun, tanaman tomat juga bisa di budidayakan didalam pot-pot bunga yang tentunya memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai tanaman sayur dan sebagai tanaman hias.Pada saat proses penyemaian benih dilakukan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti ciri-ciri benih yang sehat, tempat penyemaian danpemeliharaan tanaman tomat tersebut.Tanaman tomat sangat baik untuk kesehatan karena tanaman tomat bias mencegah kanker ,sariawan dan bias menghilangkan jerawat.Tanaman tomat mengandung vitamin A,C dan D.


SARAN
Menurut kelompok kami sebaiknya tanaman tomat tetap dibudidayakan meskipun kuantitas dan kualitas masih rendah meskipun rendah tetap diminati oleh petani .perusahaan bapak wahyu sebaiknya menaikan gaji untuk buruhnya karena kebutuhan tiap hari sangat banyak menurut saya gaji dari bapak wahyu sangat pas-pasan tidak seperti perusahaan kami yang gajinya lebih besar dan bias memenuhi kebutuhan untuk buruhnya.perusahaan bapak sebaiknya tidak mengandalkan petani titip benih karena perusahaan bapak akan memperoleh keuntungan yang sangat sedikit sebaiknya menjual bibit tomat biar keuntungannya besar.












DAFTAR PUSTAKA
Deptan, Balitbang.2011: Peran Kelembagaan Pertanian

Prakoso, Kukuh.2012: Peran Kelembangaan Agribisnis