EFISIENSI
ALOKASI DAN EFISIENSI EKONOMI KOMODITI JAGUNG
Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok
Mata Kuliah Matematika Ekonomi
Disusun oleh :
Kelompok 3
|
||||
![]() |
||||
UNIVERSITAS BRAWIJAYA KAMPUS IV
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
KEDIRI
2012
DAFTAR ISI
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……………………………………………………..3
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………4
1.3 Tujuan………………………………………………………………4
II.
PEMABAHASAN
III. KESIMPULAN
DAFTAR
PUSTAKA
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Fungsi
dengan dua variabel atau lebih variabel bebas ini sering kita jumpai dalam
penerapan bidang ekonomi dan bisnis. Dalam bab differensiasi untuk
fungsi-fungsi yang mengandung lebih dari satu macam variabel bebas. Dasar dalam
prinsip differensiasi tidak berbeda dengan prinsip differensiasi untuk fungsi
variabel bebas tunggal. Hanya dalam konsep differensiasi parsial dan konsep
diferensiasi total.
Kenyataannya,
hal tersebut bila ditelusuri lebih mendalam biasanya suatu variabel terikat
(dependent variable) akan dipengaruhi oleh beberapa variabel bebas (independent
variables). Namun, perlu diingat bahwa di antara variabel-variabel bebas ini
ada yang saling mempengaruhi (interdependency), dan ada pula yang tidak saling
mempengaruhi (independent) satu sama lainnya. Hal inilah yang perlu diperhatikan
bilamana akan membuat suatu model ekonomi atau bisnis, agar dalam analisisnya
nanti akan diperoleh hasil yang sesuai dan akurat.
Fungsi
yang terdiri lebih dari satu variabel bebas diformulasikan Y= f(X1, X2, X3,…,
Xn). Penurunan fungsi yang memiliki variabel bebas lebih dari satu dilakukan
terhadap masing-masing variabel bebas yang bersangkutan secara terpisah/ secara
parsial.
Deferensial
total merupakan penjumlahan dari diferensiasi parsial atas variabel yang
terdapat pada fungsi yang bersangkutan. Jika suatu fungsi Y= (x1, x2) maka
diferensiasi totalnya adalah dy=∂y/∂x. dx1 + ∂y/∂x.dx2, ∂y/∂x1 dan ∂y/∂x2
sebenarnya merupakan diferensiasi parsial dari y dengan penekanan terhadap x1
dan x2. Sedangkan jumlah dari diferensiasi parsial merupakan diferensiasi
total.
Dengan
adanya defferensial majemuk, hal ini mempermudah suatu perusahaan untuk
menentukan efisiensi teknis, efisiensi alokatif, dan efisiensi ekonomi.
1.2
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana efisiensi
alokasi dan efisiensi ekonomi mempengaruhi usaha jagung di Kecamatan Wirosari
Kabupaten Grobogan.
1.3
Tujuan
2.
Menganalisis tingkat
efisiensi harga usaha jagung di Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan.
3.
Menganalisis tingkat
efisiensi ekonomis usaha jagung di Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan.
II.
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
Efisiensi Alokatif dan Efisiensi Ekonomi
2.1.1 Efisiensi
Alokatif
Efisiensi alokatif (AE) adalah kemampuan
seorang petani untuk menggunakan input pada proporsi yang optimal pada harga
faktor dan teknologi produksi yang tetap (given). Dapat juga
didefinisikan sebagai kemampuan petani untuk memilih tingkat penggunaan input
minimum di mana harga-harga faktor dan teknologi tetap. Secara ringkas dapat
dikatakan bahwa AE menjelaskan kemampuan petani dalam menghasilkan sejumlah
output pada kondisi minimisasi rasio biaya input.
2.1.2 Efisiensi
Ekonomi
Gabungan kedua efisiensi yakni efisiensi
teknis dan efisiensi alokatif disebut efisiensi ekonomi (EE), artinya bahwa
produk yang dihasilkan baik secara teknik maupun alokatif efisien. Secara
ringkas dapat dikatakan EE sebagai kemampuan yang dimiliki oleh petani dalam berproduksi
untuk menghasilkan sejumlah output yang telah ditentukan sebelumnya.
2.2
Efisiensi
Alokasi Komoditi Jagung
Untuk
mencari efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi (input) ini harus diketahui
terlebih dahulu harga masing-masing faktor produksi, harga hasil produksi, produk
fisik marginal (MPPXi) serta nilai produk marginal (VMPXi). Hasil analisis mengenai
penggunaan faktor produksi yang dipakai oleh petani dalam mengusahakan jagung
dapat dilihat pada Tabel 5.7 sebagai berikut.
Gambaran LuasTanaman Jagung dan Populasi Kelompok
Tani
di Kecamatan Wirosari Tahun 2004

2.3
Efisiensi
Ekonomi Komoditi Jagung
Secara keseluruhan model produksi jagung
yang diestimasikan memberikan hasil yang signifikan, karena variable-variabel
independen yang diamati (X1, X2, X3, X4, X5, X6, X7) adalah signifikan dengan
taraf nyata α = 5%. Variabel-variabel yang diamati mempunyai perilaku empiris
yang sesuai dengan ekspektasi perilaku teoritisnya bila dilihat dari kesesuaian
lavelnya.
Dari uji t diperoleh hasil bahwa variabel-variabel
luas lahan, tenaga kerja, bibit, Urea, TSP, KCl, dan pestisida (X1, X2, X3, X4,
X5, X6, X7) mempunyai signifikansi di bawah probabilitas signifikansi 0,05 (α =
5%), dengan demikian variabel-variabel tersebut mempengaruhi produksi jagung
secara signifikan.
1.
Variabel luas lahan
(X1) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05
(α =5%) yaitu sebesar 0,024, yang berarti bahwa variabel luas lahan
mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada
pada faktor luas lahan dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,008. Hal ini
memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% lahan untuk dipakai
dalam menanam jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang
akan dipanen adalah sebesar 0,008% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain
tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA.
2.
Variabel tenaga kerja
(X2) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05
(α =5%) yaitu 0,031, yang berarti bahwa variabel tenaga kerja signifikan
mempengaruhi produksi jagung. Elastisitas input produksi pada faktor produksi
tenaga kerja dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,327. Hal ini memberikan
implikasi bahwa bila dilakukan penambahan tenaga kerja 1 % untuk dipakai dalam
usaha menanam jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang
akan dipanen adalah sebesar 0,327% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain
tetap. Dengan demikian Ho diterima dan menolak HA.
3.
Variabel bibit (X3)
mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05 (α
=5%) yaitu sebesar 0,000, yang berarti bahwa variabel bibit mempengaruhi
produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada pada faktor
bibit dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,181. Hal ini memberikan
implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% bibit untuk dipakai dalam usaha
pertanian jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan
dipanen adalah sebesar 0,181% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain
tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA.
4.
Variabel jumlah pupuk
Urea (X4) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi
0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,004, yang berarti bahwa variabel jumlah pupuk Urea
mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada
pada faktor jumlah pupuk dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,159. Hal ini
memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% pupuk Urea untuk
dipakai dalam penanaman jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah
produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,159% jagung pipilan, dengan asumsi
variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA.
5.
Variabel jumlah pupuk
TSP (X5) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi
0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,002, yang berarti bahwa variabel jumlah pupuk TSP
mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada
pada faktor jumlah pupuk TSP dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,219. Hal
ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% pupuk TSP untuk
dipakai dalam penanaman jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah
produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,219% jagung pipilan, dengan asumsi
variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA.
6.
Variabel jumlah pupuk
KCl (X6) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi
0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,007, yang berarti bahwa variabel jumlah pupuk KCl
mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada
pada faktor jumlah pupuk KCl dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,210. Hal
ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% pupuk KCl untuk
dipakai dalam penanaman jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah
produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,210% jagung pipilan, dengan asumsi
variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA. 9.
7. Variabel
jumlah pestisida (X7) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas
signifikansi 0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,022, yang berarti bahwa variabel
jumlah pestisida mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas
input produksi pada pada faktor jumlah pestisida dengan koefisien
elastisitasnya sebesar 0,127. Hal ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan
penambahan 1% pestisida untuk dipakai dalam penanaman jagung maka dapat
diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,127%
jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak
dan menerima HA.
IV. KESIMPULAN
IV. KESIMPULAN
Secara keseluruhan penggunaan imput pada
usaha pertanian jagung belum mencapai tingkat efisiensi ekonomi sehingga
penggunaan input variabel bibit, Urea, TSP, KCl dan pestisida masih bisa
ditambah. Adapun penggunaan lahan masih perlu lebih dioptimalkan. Namun untuk
input tenaga kerja nilai efisiensinya tidak efisien karena itu penggunaan input
tenaga kerja justru harus dikurangi. 11. Luas usaha pertanian rata-rata seluas
0,64 ha di daerah penelitian dirasakan belum dimanfaatkan secara optimal oleh
petani dan berdasarkan pedoman pertanian diketahui bahwa usaha pertanian secara
berkelompok pada luasan areal yang relatif sama atau seperti model
intensifikasi khusus adalah lebih baik untuk mencapai usaha pertanian yang
efisien. Pengunaan bibit, pupuk Urea, TSP, KCL dan Pestisida cukup berarti
terhadap produksi, namun dirasakan bahwa volume yang dipakai perlu ditambahkan,
tetapi penggunaan tenaga kerja dirasa sangat berlebihan sehingga sudah tidak
efisien lagi.
DAFTAR PUSTAKA
R i y a d I,2007. TESIS ANALISIS
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI JAGUNG DI KECAMATAN WIROSARI
KABUPATEN GROBOGAN.Universitas
Diponegoro .Semarang
