MAKALAH
PASCA REVOLUSI
HIJAU DI PEDESAAN JAWA TIMUR
Disusun untuk memenuhi
tugas kelompok mata kuliah sosiologi pertanian
Disusun oleh:
Kelompok 5
Aulia Rasdiana Putri 125040118113009
Eko Fendy Listiyono 125040118113012
Irwanto 125040118113004
Muhammad Hendy Prasetiyo 125040118113007
Pangestika Fajar Nurviana 125040118113006

UNIVERSITAS BRAWIJAYA KAMPUS IV
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
KEDIRI
2012
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak pembangunan
pertanian mulai digencarkan
ke daerah pedesaan
pada tahun 1970-an. Terdapat dua
pandangan yang bertolak belakang satu sama lain
dalam melihat bagaimana pembangunan
pertanian mempengaruhi perubahan
sosial di pedesaan jawa.
Pandangan pertama melihat persebaran teknologi pertanian modern ke daerah pedesaan
selama ini telah
meningkatkan jumlah buruh
tani tak bertanah sehingga mendorong terjadinya polarisasi sosial. Sebaliknya,
pandangan kedua melihat persebaran teknologi
pertanian modern justru
telah menghasilkan pemerataan ekonomi sehingga
tidak menimbulkan polarisasi.
Revolusi Hijau sebenarnya mengacu pada
program intensifikasi pertanian tanaman pangan. Di Indonesia sendiri sebenarnya
program intensifikasi sudah mulai dicoba pada waktu sebelum Indonesia merdeka
pada tahun 1937. Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan produksi tanaman
padi yang untungnya juga peningkatan tersebut dapat diusahakan tanpa mengubah
struktur social pedesaan.
Revolusi hijau di awali oleh Ford dan Rockerfeller
Foundation, yang mengembangkan gandum di Meksiko (1950) dan padi di Filipina
(1960). Revolusi hijau menekankan pada SEREALIA : padi, jagung, gandum, dan
lain-lain, (serealia adalah tanaman biji-bijian).
Pasca revolusi hijau sejak tahun 1960-an (lewat
sudah diperkenalkan program padi sentra dan program Bimas) bibit unggul, pupuk
kimia dan pestisida sudah diperkenalkan kepada penduduk. Ketiga jenis teknologi
tersebut semakin tersebar luas setelah dilaksanakannya program Inmas, insus,
dan supra insus yang berjalan hingga sekarang. Berkat teknologi modern tersebut
sekarang di desa ini sudah banyak ditemui teknik-teknik produksi baru seperti,
mesin perontok dan rice mills pada
pasca panen. Secara akumulatif, semua itu telah memperbesar skala perubahan
masyarakat desa menjadi semakin meluas dan dinamis.
1.2 Rumusan Masalah
1. Dimensi
apa yang mengalami perubahan karena pembangunan pertanian?
2. Bagaimana
proses perubahan masyarkat desa terjadi karana faktor pembangunan pertanian ?
3. Bagaimana
arah perubahan sosial yang terjadi akibat pembangunan pertanian?
4. Apa
saja dampak positif dan negatif dari pembangunan pertanian?
1.3 Tujuan
1.
Menjelaskan dimensi apa
saja (cultural, structural,
interaksional) yang berubah
karena pembangunan pertanian ( revolusi hijau).
2.
Menjelaskan proses perubahan
masyarakat desa karena
factor pembangunan pertanian (revolusi hijau).
3. Menjelaskan
kemana arah perubahan sosial yang terjadi akibat pembangunan
pertanian (revolusi hijau) tersebut.
4. Menjelaskan
dampak positif dan
negative dari pembangunan
pertanian
(revolusi hijau) tersebut.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian revolusi hijau adalah usaha pengembangan teknologi
pertanian untuk meningkatkan produksi pangan yang lebih tinggi. Mengubah dari
pertanian yang tadinya menggunakan teknologi tradisional menjadi pertanian yang
menggunakan teknologi lebih maju atau modern (Munandar, 2012).
Revolusi Hijau adalah sebutan tidak
resmi yang dipakai untuk menggambarkan perubahan fundamental dalam pemakaian
teknologi budidaya pertanian yang banyak negara berkembang, terutama di Asia
(Ridwan, 2012).
Revolusi Hijau adalah suatu istilah untuk menggambarkan
sebuah transformasi agrikultural yang membawa peningkatan produksi secara signifikan
di banyak negara berkembang (Mai, 2012).
III. PEMBAHASAN
3.1
Dimensi Struktural, cultural dan interaksional
Dimensi struktural mengacu kepada perubahan-perubahan dalam
bentuk struktural masyarakat, menyangkut perubahan dalam peranan, munculnya
peranan baru, perubahan dalam struktural kelas sosial dan perubahan lembaga
sosial. Secara sederhana
perubahan struktural dijelaskan sebagai berubahnya bentuk lama diganti dengan
bentuk-bentuk baru yang secara tidak langsung dapat menimbulkan difusi
kebudayaan. Bentuk umum dan bentuk baru dapat diganti dan dimodivikasi secara
terus-menerus.
Perubahan tersebut meliputi:
1. Bertambah dan berkurangnya
kadar peranan.
2. Menyangkut aspek perilaku dan
kekuasaan.
3. Adanya peningkatan atau penurunan
sejumlah peranan atau pengkategorian peranan.
4. Terjadinya pergeseran dari wadah atau
kategori peranan.
5. Terjadinya modifikasi saluran
komunikasi di antara peranan-peranan atau
kategori peranan.
6. Terjadinya
perubahan dari sejumlah
tipe dan daya
guna fungsi sebagai akibat dari struktur.
Dimensi Struktural ada dua macam yaitu
dimensi vertical dan dimensi horizontal. Dimensi vertical akan melihat masyarakat
secara bertingkat. Dimensi
horizontal biasa disebut sebagai deferensisasi atau ketidaksamaan sosial; yaitu suatu pembedaan sosial secara horizontal
dalam arti perbedaan-perbedaan tersebut tidak mengandung perbedaan secara
bertingkat, melainkan berbeda saja satu dengan lainnya. Perbedaan tersebut
walaupun dikatakan tidak mengandung unsur perbedaan secara vertical, namun
dalam masyarakat sering muncul penilaian yang memandang perbedaan tersebut
dengan demensi vertical.
Dimensi kultural mengacu kepada perubahan kebudayaan dalam
masyarakat, seperti adanya penemuan (discovery) dalam berpikir (ilmu
pengetahuan), pembaruan hasil (invention) teknologi, kontak dengan
kebudayaan lain yang menyebabkan terjadinya difusi dan peminjaman kebudayaan.
Kesemuaannya itu meningkatkan adanya integrasi unsur-unsur baru kedalam
kebudayaan. Bentuk- bentuk sosial lainnya, dimana bentuknya tidak berubah dan
tetap dalam kerangka kerjanya. Perubahan
sosialdan perubahan kebudayaan sulit dipisahkan. Tetapi secara teoritis
dapatlah dikatakan bahwa perubahan sosial mengacu kepada perubahan dalam struktur
sosial dan hubungan sosial, sedangkan perubahan kebudayaan mengacu kepada
perubahan pola-pola perilaku, termasuk teknologi dan dimensi dari ilmu,
material dan nonmaterial.
Perubahan ini meliputi:
1.
Inovasi kebudayaan.
2.
Difusi.
3.
Integrasi
Dimensi interaksional Dimensi
interaksional mengacu pada
adanya perubahan hubungan
sosial dalam masyarakat meliputi:
1. Perubahan dalam
frekuensi.
2. Perubahan dalam jarak
sosial.
3. Perubahan perantara.
4. Perubahan dari aturan
atau pola-pola.
5. Perubahan dalam bentuk
interaksi.
3.2
Perubahan Masyarakat Desa
Akibat Revolusi Hijau
Adaptasi teknologi bersifat netral skala, tapi terbukti
dari penelitian di Jawa Timur ini, persebaran teknologi makin mengukuhkan
kesenjangan sosial. Konsolidasi penguasaan sawah dan kekuasaan di desa
merupakan penyebab utama. Meskipun perubahan sosial yang terjadi bukanlah
pelapisan melainkan polarisasi sosial karena integrasinya dengan perekonomian
nasional.
Sejak pembangunan
pertanian mulai digencarkan ke daerah pedesaan pada tahun 1970-an Terdapat dua
pandangan yang bertolak belakang satu sama lain dalam melihat bagaimana
pembangunan pertanian mempengaruhi perubahan sosial di pedesaan jawa. Pandangan
pertama melihat persebaran teknologi pertanian modern ke daerah pedesaan selama
ini telah meningkatkan jumlah buruh tani tak bertanah sehingga mendorong
terjadinya polarisasi sosial.
Pandangan kedua melihat
persebaran teknologi pertanian modern justru telah menghasilkan pemerataan
ekonomi sehingga tidak menimbulkan polarisasi. Melainkan justru memperbanyak
subkelas petani dan mendorong pelipat gandaan lapisan petani dalam struktur
berspektrum kontinum atau stratifikasi.
3.3 Perubahan
Sosial dan Dampak Negativ dan Positif Revolusi Hijau
Arah
perubahan sosial Kecenderungan menuju ke polarisasi. Namun untuk
mengatakan demikian kita harus ekstra hati-hati sebab masih ada
faktor lain yang belum kita perhitungkan, yaitu pengaruh ekonomi luar pertanian
terhadap perekonomian rumah tangga petani. Ini penting karena perkembangan
sumber keonomi luar pertanian dapat menjadi tumpuan atau katub penyelamat bagi
kelompok petani miskin yang telah tergeser dari pertanian sehingga bisa
mencegah terjadinya polarisasi sosial. Perkembangan dimungkinkan lebih-lebih
bila mengingat bahwa kebijakan pemerintah membangun sector non pertanian di
pedesaan seperti proyek inpres desa,bangdes, proyek padat karya, dan
berkembangnya kegiatan perdagangan di pedesaan telah menumbuhkan sumber-sumber
ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Tetapi penting untuk diperhatikan, bagaimanapun pergeseran pekerjaan
ke luar pertanian itu sangatlah ditentukan oleh kondisi-kondisi sosial ekonomi
yang dibawa dari sector pertanian. Seperti telah disebutkan dimuka, pembanguna
pertanian selama ini telah menempatkan kekuasaan ekonomi anggota masyarakat
dalam ketimpangan yang cukup berarti. Berpijak dari kondisi demikian maka
sangat dimungkinkan hal itu akan menimbulkan pola pergeseran pekerjaan yang
berbeda di antara berbagai kelas. Perbedaan itu terutama bersumber dari arti
pentingnya penguasaan seseorang atas kekuasaan ekonomi dalam masyarakat.
Perbedaan penguasaan sumber ekonomi akan menentukan tinggi rendahnya kemampuan
mengendalikan dan menguasai sumber ekonomi dalam pasar, yang selanjutnya
menimbulkan perbedaan penguasaan sumber ekonomi luar pertanian.
Dampak
Negatif Revolusi Hijau :
1.
perubahan gaya hidup seseorang dari yang
biasa saja menjadi lebih .
2.
petani kecil bisa berpindah pekerjaan
karena kalah saing dengan petani besar.
3.
Pendapatan akan mempengaruhi kelas
ekonomi kaya dan berkecukupan cenderung menduduki status sosial yang tinggi dan
sebaliknya kelas ekonomi miskin cenderung menduduki tempat yang kurang
terhormat atau berstatus rendah.
Dampak Positif Revolusi Hijau :
1.
petani mudah mengarap sawah karena sudah
ada mesin perontok dan rice mills .
2.
hasil pangan meningkat .
IV. KESIMPULAN
Dapat
disimpulkan bahwa pertanian yang sudah memasuki revolusi hijau memiliki
pengaruh baik dan buruk untuk pertanian misalnya pengaruh baiknya petani
memperoleh hasil pangan yang memuaskan dan maksimal tapi pengaruh buruknya
petani yang kaya kedudukan ekonomi maupun sosialnya semakin tinggi sedangkan
petani kecil kedudukan ekonomi dan sosialnya semakin rendah. Petani kecil
banyak yang pindah alih pekerjaan karena hasilnya tidak mencukupi keluarga dan
kalah saling dengan petani besar. Peralihan pekerjaan ditentutan oleh
kondisi-kondisi sosial ekonomi yang dibawa dari
sektor pertanian.
DAFTAR PUSTAKA
Tjondronegoro,Soediono M.P. 1990.Revolusi
Hijau dan Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa. LP3ES : Jakarta
Ritzer,George dan Douglas
J.Goodman.2009.Teori Sosiologi.Kreasi Wacana : Yogjakarta
Sanderson,K.Stephen.1993.Sosiologi
Makro.Raja Grafindo Persada : Jakarta
Ridwan. 2012, Revolusi Hijau dan
Dampaknya
Agung.
2012, Revolusi Hijau
Mai. 2012. Revolusi Hijau
http://industri17imafa.blog.mercubuana.ac.id/tag/sejarah-revolusi-hijau/