Selasa, 30 April 2013

CONTOH MAKALAH PASCA REVOLUSI HIJAU DI PEDESAAN JAWA TIMUR

MAKALAH
PASCA REVOLUSI HIJAU DI PEDESAAN JAWA TIMUR
Disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah sosiologi pertanian

Disusun oleh:
Kelompok 5

Aulia Rasdiana Putri                           125040118113009
Eko Fendy Listiyono                          125040118113012
Irwanto                                               125040118113004
Muhammad Hendy Prasetiyo             125040118113007
Pangestika Fajar Nurviana                  125040118113006

























UNIVERSITAS BRAWIJAYA KAMPUS IV
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
KEDIRI
2012


I.  PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sejak  pembangunan  pertanian  mulai  digencarkan  ke  daerah  pedesaan  pada tahun 1970-an.  Terdapat  dua  pandangan  yang  bertolak belakang satu sama  lain  dalam melihat  bagaimana  pembangunan  pertanian  mempengaruhi  perubahan  sosial  di pedesaan jawa. Pandangan pertama melihat persebaran teknologi pertanian modern ke daerah  pedesaan  selama  ini  telah  meningkatkan  jumlah  buruh  tani  tak  bertanah sehingga mendorong  terjadinya polarisasi sosial. Sebaliknya, pandangan  kedua melihat persebaran  teknologi  pertanian  modern  justru  telah  menghasilkan  pemerataan ekonomi  sehingga  tidak  menimbulkan  polarisasi.
Revolusi Hijau sebenarnya mengacu pada program intensifikasi pertanian tanaman pangan. Di Indonesia sendiri sebenarnya program intensifikasi sudah mulai dicoba pada waktu sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1937. Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan produksi tanaman padi yang untungnya juga peningkatan tersebut dapat diusahakan tanpa mengubah struktur social pedesaan.
Revolusi hijau di awali oleh Ford dan Rockerfeller Foundation, yang mengembangkan gandum di Meksiko (1950) dan padi di Filipina (1960). Revolusi hijau menekankan pada SEREALIA : padi, jagung, gandum, dan lain-lain, (serealia adalah tanaman biji-bijian).
Pasca revolusi hijau sejak tahun 1960-an (lewat sudah diperkenalkan program padi sentra dan program Bimas) bibit unggul, pupuk kimia dan pestisida sudah diperkenalkan kepada penduduk. Ketiga jenis teknologi tersebut semakin tersebar luas setelah dilaksanakannya program Inmas, insus, dan supra insus yang berjalan hingga sekarang. Berkat teknologi modern tersebut sekarang di desa ini sudah banyak ditemui teknik-teknik produksi baru seperti, mesin perontok dan rice mills pada pasca panen. Secara akumulatif, semua itu telah memperbesar skala perubahan masyarakat desa menjadi semakin meluas dan dinamis.
1.2 Rumusan Masalah
1.      Dimensi apa yang mengalami perubahan karena pembangunan pertanian?
2.      Bagaimana proses perubahan masyarkat desa terjadi karana faktor pembangunan pertanian ?
3.      Bagaimana arah perubahan sosial yang terjadi akibat pembangunan pertanian?
4.      Apa saja dampak positif dan negatif dari pembangunan pertanian?

1.3 Tujuan
1. Menjelaskan  dimensi  apa  saja  (cultural,  structural,  interaksional)  yang berubah karena pembangunan pertanian ( revolusi hijau).
2. Menjelaskan  proses  perubahan  masyarakat  desa  karena  factor                   pembangunan pertanian (revolusi hijau).
3. Menjelaskan kemana arah perubahan sosial yang terjadi akibat         pembangunan pertanian (revolusi hijau) tersebut.
4. Menjelaskan    dampak  positif  dan  negative  dari  pembangunan  pertanian
    (revolusi hijau) tersebut.















II.  TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian revolusi hijau adalah usaha pengembangan teknologi pertanian untuk meningkatkan produksi pangan yang lebih tinggi. Mengubah dari pertanian yang tadinya menggunakan teknologi tradisional menjadi pertanian yang menggunakan teknologi lebih maju atau modern (Munandar, 2012).
Revolusi Hijau adalah sebutan tidak resmi yang dipakai untuk menggambarkan perubahan fundamental dalam pemakaian teknologi budidaya pertanian yang banyak negara berkembang, terutama di Asia (Ridwan, 2012).
Revolusi Hijau adalah suatu istilah untuk menggambarkan sebuah transformasi agrikultural yang membawa peningkatan produksi secara signifikan di banyak negara berkembang (Mai, 2012).




















III. PEMBAHASAN
3.1 Dimensi Struktural, cultural dan interaksional
           
Dimensi struktural mengacu kepada perubahan-perubahan dalam bentuk struktural masyarakat, menyangkut perubahan dalam peranan, munculnya peranan baru, perubahan dalam struktural kelas sosial dan perubahan lembaga sosial. Secara sederhana perubahan struktural dijelaskan sebagai berubahnya bentuk lama diganti dengan bentuk-bentuk baru yang secara tidak langsung dapat menimbulkan difusi kebudayaan. Bentuk umum dan bentuk baru dapat diganti dan dimodivikasi secara terus-menerus.
Perubahan tersebut meliputi: 
1.  Bertambah dan berkurangnya kadar peranan.
2.  Menyangkut aspek perilaku dan kekuasaan.
3.  Adanya peningkatan atau penurunan sejumlah peranan atau pengkategorian    peranan. 
4.    Terjadinya pergeseran dari wadah atau kategori peranan.
5.  Terjadinya modifikasi saluran komunikasi di antara peranan-peranan atau  kategori peranan.
6.   Terjadinya  perubahan  dari  sejumlah  tipe  dan  daya  guna  fungsi  sebagai akibat dari struktur.

Dimensi Struktural ada dua macam yaitu dimensi vertical dan dimensi horizontal. Dimensi vertical akan melihat masyarakat secara bertingkat. Dimensi horizontal biasa disebut sebagai deferensisasi atau ketidaksamaan sosial; yaitu suatu pembedaan sosial secara horizontal dalam arti perbedaan-perbedaan tersebut tidak mengandung perbedaan secara bertingkat, melainkan berbeda saja satu dengan lainnya. Perbedaan tersebut walaupun dikatakan tidak mengandung unsur perbedaan secara vertical, namun dalam masyarakat sering muncul penilaian yang memandang perbedaan tersebut dengan demensi vertical.
           
Dimensi kultural mengacu kepada perubahan kebudayaan dalam masyarakat, seperti adanya penemuan (discovery) dalam berpikir (ilmu pengetahuan), pembaruan hasil (invention) teknologi, kontak dengan kebudayaan lain yang menyebabkan terjadinya difusi dan peminjaman kebudayaan. Kesemuaannya itu meningkatkan adanya integrasi unsur-unsur baru kedalam kebudayaan. Bentuk- bentuk sosial lainnya, dimana bentuknya tidak berubah dan tetap dalam kerangka kerjanya. Perubahan sosialdan perubahan kebudayaan sulit dipisahkan. Tetapi secara teoritis dapatlah dikatakan bahwa perubahan sosial mengacu kepada perubahan dalam struktur sosial dan hubungan sosial, sedangkan perubahan kebudayaan mengacu kepada perubahan pola-pola perilaku, termasuk teknologi dan dimensi dari ilmu, material dan nonmaterial.
Perubahan ini meliputi:
1.      Inovasi kebudayaan.
2.      Difusi.
3.      Integrasi
Dimensi interaksional Dimensi  interaksional  mengacu  pada  adanya  perubahan  hubungan  sosial dalam masyarakat meliputi:
1.  Perubahan dalam frekuensi.
2.  Perubahan dalam jarak sosial.
3.  Perubahan perantara.
4.  Perubahan dari aturan atau pola-pola.
5.  Perubahan dalam bentuk interaksi.

3.2  Perubahan Masyarakat Desa Akibat Revolusi Hijau

Adaptasi  teknologi bersifat netral skala, tapi terbukti dari penelitian di Jawa Timur ini, persebaran teknologi makin mengukuhkan kesenjangan sosial. Konsolidasi penguasaan sawah dan kekuasaan di desa merupakan penyebab utama. Meskipun perubahan sosial yang terjadi bukanlah pelapisan melainkan polarisasi sosial karena integrasinya dengan perekonomian nasional.
Sejak pembangunan pertanian mulai digencarkan ke daerah pedesaan pada tahun 1970-an Terdapat dua pandangan yang bertolak belakang satu sama lain dalam melihat bagaimana pembangunan pertanian mempengaruhi perubahan sosial di pedesaan jawa. Pandangan pertama melihat persebaran teknologi pertanian modern ke daerah pedesaan selama ini telah meningkatkan jumlah buruh tani tak bertanah sehingga mendorong terjadinya polarisasi sosial.
Pandangan kedua melihat persebaran teknologi pertanian modern justru telah menghasilkan pemerataan ekonomi sehingga tidak menimbulkan polarisasi. Melainkan justru memperbanyak subkelas petani dan mendorong pelipat gandaan lapisan petani dalam struktur berspektrum kontinum atau stratifikasi.

3.3  Perubahan Sosial dan Dampak Negativ dan Positif Revolusi Hijau

Arah perubahan sosial Kecenderungan menuju ke polarisasi. Namun untuk mengatakan  demikian kita harus ekstra hati-hati sebab masih ada faktor lain yang belum kita perhitungkan, yaitu pengaruh ekonomi luar pertanian terhadap perekonomian rumah tangga petani. Ini penting karena perkembangan sumber keonomi luar pertanian dapat menjadi tumpuan atau katub penyelamat bagi kelompok petani miskin yang telah tergeser dari pertanian sehingga bisa mencegah terjadinya polarisasi sosial. Perkembangan dimungkinkan lebih-lebih bila mengingat bahwa kebijakan pemerintah membangun sector non pertanian di pedesaan seperti proyek inpres desa,bangdes, proyek padat karya, dan berkembangnya kegiatan perdagangan di pedesaan telah menumbuhkan sumber-sumber ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Tetapi penting untuk diperhatikan, bagaimanapun pergeseran pekerjaan ke luar pertanian itu sangatlah ditentukan oleh kondisi-kondisi sosial ekonomi yang dibawa dari sector pertanian. Seperti telah disebutkan dimuka, pembanguna pertanian selama ini telah menempatkan kekuasaan ekonomi anggota masyarakat dalam ketimpangan yang cukup berarti. Berpijak dari kondisi demikian maka sangat dimungkinkan hal itu akan menimbulkan pola pergeseran pekerjaan yang berbeda di antara berbagai kelas. Perbedaan itu terutama bersumber dari arti pentingnya penguasaan seseorang atas kekuasaan ekonomi dalam masyarakat. Perbedaan penguasaan sumber ekonomi akan menentukan tinggi rendahnya kemampuan mengendalikan dan menguasai sumber ekonomi dalam pasar, yang selanjutnya menimbulkan perbedaan penguasaan sumber ekonomi luar pertanian.

Dampak Negatif Revolusi Hijau : 
1.      perubahan gaya hidup seseorang dari yang biasa saja menjadi lebih .
2.      petani kecil bisa berpindah pekerjaan karena kalah saing dengan petani besar.
3.      Pendapatan akan mempengaruhi kelas ekonomi kaya dan berkecukupan cenderung menduduki status sosial yang tinggi dan sebaliknya kelas ekonomi miskin cenderung menduduki tempat yang kurang terhormat atau berstatus rendah.
           
Dampak Positif Revolusi Hijau :
1.      petani mudah mengarap sawah karena sudah ada mesin perontok dan rice mills .
2.      hasil pangan meningkat .



















IV. KESIMPULAN

            Dapat disimpulkan bahwa pertanian yang sudah memasuki revolusi hijau memiliki pengaruh baik dan buruk untuk pertanian misalnya pengaruh baiknya petani memperoleh hasil pangan yang memuaskan dan maksimal tapi pengaruh buruknya petani yang kaya kedudukan ekonomi maupun sosialnya semakin tinggi sedangkan petani kecil kedudukan ekonomi dan sosialnya semakin rendah. Petani kecil banyak yang pindah alih pekerjaan karena hasilnya tidak mencukupi keluarga dan kalah saling dengan petani besar. Peralihan pekerjaan ditentutan oleh kondisi-kondisi sosial ekonomi yang dibawa dari  sektor pertanian.
               





















DAFTAR PUSTAKA

Tjondronegoro,Soediono M.P. 1990.Revolusi Hijau dan Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa. LP3ES : Jakarta

Ritzer,George dan Douglas J.Goodman.2009.Teori Sosiologi.Kreasi Wacana : Yogjakarta

Sanderson,K.Stephen.1993.Sosiologi Makro.Raja Grafindo Persada : Jakarta

Ridwan. 2012, Revolusi Hijau dan Dampaknya
Agung. 2012, Revolusi Hijau
Mai. 2012. Revolusi Hijau
http://industri17imafa.blog.mercubuana.ac.id/tag/sejarah-revolusi-hijau/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar