Rabu, 01 Mei 2013

MAKALAH TENTANG EFISIENSI ALOKASI DAN EFISIENSI EKONOMI KOMODITI JAGUNG




EFISIENSI ALOKASI DAN EFISIENSI EKONOMI KOMODITI JAGUNG

Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Matematika Ekonomi

Disusun oleh :

Kelompok 3






Alda Riski Madewa                            125040118113013
Aulia Rasdiana Putri                           125040118113009
Eko Fendy Listiyono                          125040118113012
Excel Virgi Swastika                          125040118113021
Merediansyah Amalul Khoiri             125040118113015

 



 


















UNIVERSITAS BRAWIJAYA KAMPUS IV
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
KEDIRI
2012
 

DAFTAR ISI

I.                   PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang……………………………………………………..3

1.2  Rumusan Masalah…………………………………………………4

1.3  Tujuan………………………………………………………………4

II.                PEMABAHASAN

    III.   KESIMPULAN

    DAFTAR PUSTAKA
 
I. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Fungsi dengan dua variabel atau lebih variabel bebas ini sering kita jumpai dalam penerapan bidang ekonomi dan bisnis. Dalam bab differensiasi untuk fungsi-fungsi yang mengandung lebih dari satu macam variabel bebas. Dasar dalam prinsip differensiasi tidak berbeda dengan prinsip differensiasi untuk fungsi variabel bebas tunggal. Hanya dalam konsep differensiasi parsial dan konsep diferensiasi total.
Kenyataannya, hal tersebut bila ditelusuri lebih mendalam biasanya suatu variabel terikat (dependent variable) akan dipengaruhi oleh beberapa variabel bebas (independent variables). Namun, perlu diingat bahwa di antara variabel-variabel bebas ini ada yang saling mempengaruhi (interdependency), dan ada pula yang tidak saling mempengaruhi (independent) satu sama lainnya. Hal inilah yang perlu diperhatikan bilamana akan membuat suatu model ekonomi atau bisnis, agar dalam analisisnya nanti akan diperoleh hasil yang sesuai dan akurat.
Fungsi yang terdiri lebih dari satu variabel bebas diformulasikan Y= f(X1, X2, X3,…, Xn). Penurunan fungsi yang memiliki variabel bebas lebih dari satu dilakukan terhadap masing-masing variabel bebas yang bersangkutan secara terpisah/ secara parsial.
Deferensial total merupakan penjumlahan dari diferensiasi parsial atas variabel yang terdapat pada fungsi yang bersangkutan. Jika suatu fungsi Y= (x1, x2) maka diferensiasi totalnya adalah dy=∂y/∂x. dx1 + ∂y/∂x.dx2, ∂y/∂x1 dan ∂y/∂x2 sebenarnya merupakan diferensiasi parsial dari y dengan penekanan terhadap x1 dan x2. Sedangkan jumlah dari diferensiasi parsial merupakan diferensiasi total.
Dengan adanya defferensial majemuk, hal ini mempermudah suatu perusahaan untuk menentukan efisiensi teknis, efisiensi alokatif, dan efisiensi ekonomi.


1.2  Rumusan Masalah

1.    Bagaimana efisiensi alokasi dan efisiensi ekonomi mempengaruhi usaha jagung di Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan.

1.3  Tujuan

2.    Menganalisis tingkat efisiensi harga usaha jagung di Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan.
3.    Menganalisis tingkat efisiensi ekonomis usaha jagung di Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan.

II. PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Efisiensi Alokatif dan Efisiensi Ekonomi

2.1.1   Efisiensi Alokatif

Efisiensi alokatif (AE) adalah kemampuan seorang petani untuk menggunakan input pada proporsi yang optimal pada harga faktor dan teknologi produksi yang tetap (given). Dapat juga didefinisikan sebagai kemampuan petani untuk memilih tingkat penggunaan input minimum di mana harga-harga faktor dan teknologi tetap. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa AE menjelaskan kemampuan petani dalam menghasilkan sejumlah output pada kondisi minimisasi rasio biaya input.

2.1.2   Efisiensi Ekonomi

Gabungan kedua efisiensi yakni efisiensi teknis dan efisiensi alokatif disebut efisiensi ekonomi (EE), artinya bahwa produk yang dihasilkan baik secara teknik maupun alokatif efisien. Secara ringkas dapat dikatakan EE sebagai kemampuan yang dimiliki oleh petani dalam berproduksi untuk menghasilkan sejumlah output yang telah ditentukan sebelumnya.

2.2  Efisiensi Alokasi Komoditi Jagung

Untuk mencari efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi (input) ini harus diketahui terlebih dahulu harga masing-masing faktor produksi, harga hasil produksi, produk fisik marginal (MPPXi) serta nilai produk marginal (VMPXi). Hasil analisis mengenai penggunaan faktor produksi yang dipakai oleh petani dalam mengusahakan jagung dapat dilihat pada Tabel 5.7 sebagai berikut.



Gambaran LuasTanaman Jagung dan Populasi Kelompok Tani
di Kecamatan Wirosari Tahun 2004

2.3  Efisiensi Ekonomi Komoditi Jagung

Secara keseluruhan model produksi jagung yang diestimasikan memberikan hasil yang signifikan, karena variable-variabel independen yang diamati (X1, X2, X3, X4, X5, X6, X7) adalah signifikan dengan taraf nyata α = 5%. Variabel-variabel yang diamati mempunyai perilaku empiris yang sesuai dengan ekspektasi perilaku teoritisnya bila dilihat dari kesesuaian lavelnya.
Dari uji t diperoleh hasil bahwa variabel-variabel luas lahan, tenaga kerja, bibit, Urea, TSP, KCl, dan pestisida (X1, X2, X3, X4, X5, X6, X7) mempunyai signifikansi di bawah probabilitas signifikansi 0,05 (α = 5%), dengan demikian variabel-variabel tersebut mempengaruhi produksi jagung secara signifikan.

1.    Variabel luas lahan (X1) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,024, yang berarti bahwa variabel luas lahan mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada pada faktor luas lahan dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,008. Hal ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% lahan untuk dipakai dalam menanam jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,008% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA.
2.    Variabel tenaga kerja (X2) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05 (α =5%) yaitu 0,031, yang berarti bahwa variabel tenaga kerja signifikan mempengaruhi produksi jagung. Elastisitas input produksi pada faktor produksi tenaga kerja dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,327. Hal ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan tenaga kerja 1 % untuk dipakai dalam usaha menanam jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,327% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain tetap. Dengan demikian Ho diterima dan menolak HA.
3.    Variabel bibit (X3) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,000, yang berarti bahwa variabel bibit mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada pada faktor bibit dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,181. Hal ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% bibit untuk dipakai dalam usaha pertanian jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,181% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA.
4.    Variabel jumlah pupuk Urea (X4) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,004, yang berarti bahwa variabel jumlah pupuk Urea mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada pada faktor jumlah pupuk dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,159. Hal ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% pupuk Urea untuk dipakai dalam penanaman jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,159% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA.
5.    Variabel jumlah pupuk TSP (X5) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,002, yang berarti bahwa variabel jumlah pupuk TSP mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada pada faktor jumlah pupuk TSP dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,219. Hal ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% pupuk TSP untuk dipakai dalam penanaman jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,219% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA.
6.    Variabel jumlah pupuk KCl (X6) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,007, yang berarti bahwa variabel jumlah pupuk KCl mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada pada faktor jumlah pupuk KCl dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,210. Hal ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% pupuk KCl untuk dipakai dalam penanaman jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,210% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA. 9.
7.    Variabel jumlah pestisida (X7) mempunyai angka signifikansi di bawah nilai probabilitas signifikansi 0,05 (α =5%) yaitu sebesar 0,022, yang berarti bahwa variabel jumlah pestisida mempengaruhi produksi jagung secara signifikan. Elastisitas input produksi pada pada faktor jumlah pestisida dengan koefisien elastisitasnya sebesar 0,127. Hal ini memberikan implikasi bahwa bila dilakukan penambahan 1% pestisida untuk dipakai dalam penanaman jagung maka dapat diperkirakan penambahan jumlah produksi yang akan dipanen adalah sebesar 0,127% jagung pipilan, dengan asumsi variabel lain tetap. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima HA.
IV. KESIMPULAN

Secara keseluruhan penggunaan imput pada usaha pertanian jagung belum mencapai tingkat efisiensi ekonomi sehingga penggunaan input variabel bibit, Urea, TSP, KCl dan pestisida masih bisa ditambah. Adapun penggunaan lahan masih perlu lebih dioptimalkan. Namun untuk input tenaga kerja nilai efisiensinya tidak efisien karena itu penggunaan input tenaga kerja justru harus dikurangi. 11. Luas usaha pertanian rata-rata seluas 0,64 ha di daerah penelitian dirasakan belum dimanfaatkan secara optimal oleh petani dan berdasarkan pedoman pertanian diketahui bahwa usaha pertanian secara berkelompok pada luasan areal yang relatif sama atau seperti model intensifikasi khusus adalah lebih baik untuk mencapai usaha pertanian yang efisien. Pengunaan bibit, pupuk Urea, TSP, KCL dan Pestisida cukup berarti terhadap produksi, namun dirasakan bahwa volume yang dipakai perlu ditambahkan, tetapi penggunaan tenaga kerja dirasa sangat berlebihan sehingga sudah tidak efisien lagi.

















DAFTAR PUSTAKA

R i y a d I,2007. TESIS ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI JAGUNG DI KECAMATAN WIROSARI
KABUPATEN GROBOGAN.Universitas Diponegoro .Semarang

1 komentar:

  1. fen ini berguna banget buat adik kelas kita, keep going for blogger Indonesia

    BalasHapus